Rabu, 05 September 2012

YUSUF TOKOH ALKITAB, PEMIMPIN BANGSA

Salah satu tokoh Alkitab, yang kisah hidupnya sangat menarik untuk digali lebih dalam adalah Yusuf. Melalui kisah hidup Yusuf, Tuhan menuntun kita untuk tetap setia menjalani setiap kehendak dan rencana-Nya dengan penuh penyerahan dan keteguhan kepada Dia. Jika Rekan-Rekan Pelayan Anak ingin menceritakan kisah hidup Yusuf kepada anak, pelajarilah pula secara mendalam tentang tokoh Yusuf ini terlebih dahulu. Tanpa pemahaman yang dalam akan kisah ini, maka kita juga tidak akan memahami dengan jelas apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui tokoh Yusuf bagi setiap orang percaya.

a. Latar belakang.

Yusuf adalah putra ke-11 dari Yakub, anak pertama yang diperolehnya dari Rahel. Yusuf lahir di kota Haran. Nama Yusuf berarti "kiranya ditambahkan-Nya (Allah) lagi (anak lelaki)". Dia memiliki seorang saudara kandung, Benyamin, dan 12 saudara tiri (termasuk Dina). Ibunya meninggal saat dia masih muda. Dia memperistri Asnat dan memiliki anak Manasye dan Efraim.

b. Yusuf di dalam sumur mati ("pitted").

Yusuf sangat disayangi dan dikasihi Yakub. Dia mendapatkan jubah yang indah dari ayahnya. Hal ini membuat saudara-saudaranya iri dan membencinya. Mereka semakin benci dengan Yusuf karena dia menceritakan bahwa dalam mimpinya dia akan menjadi orang yang berkedudukan lebih tinggi daripada saudara-saudaranya. Karena alasan ini, saudara-saudara Yusuf berniat untuk membunuhnya. Namun, saudara-saudaranya bisa "mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20) Oleh karena itu, Yusuf tetap hidup meskipun harus dimasukkan ke dalam sumur mati.

c. Yusuf dijual ke Mesir.

Saat saudara-saudara Yusuf duduk makan, datang saudagar-saudagar Midian -- pedagang Ismael dari Gilead. Saudara-saudaranya mengeluarkannya dari dalam sumur dan menjualnya kepada pedagang Ismael (Kejadian 37:28).

d. Yusuf di dalam penjara ("potted").

Di Mesir, orang Midian yang membeli Yusuf, menjual Yusuf kepada Potifar, salah seorang pegawai istana Firaun (Kejadian 37:36). Saat dia menjadi budak, Allah tetap menyertainya. Allah membuat segala yang diperbuatnya berhasil. Celakanya, Potifar memunyai istri yang dipenuhi birahi, ketika melihat ketampanan Yusuf. Berkali-kali dia mencoba merayu Yusuf untuk berzinah dengannya, namun Yusuf menolak. Yusuf memilih taat kepada Allah untuk menjaga kekudusan hidupnya. Karena jengkel keinginannya tidak terwujud, istri Potifar pun mengarang cerita bahwa Yusuf mencoba memperkosanya. Inilah yang menjebloskannya ke dalam penjara.

Yusuf di penjara selama 10 atau 12 tahun, dengan rantai pada pergelangan tangan dan kalung besi di leher. Kondisi yang demikian dapat menghancurkan hidup siapa pun. Sekalipun Yusuf tahu bahwa Allah memiliki rencana indah untuknya, namun jika ia tidak memiliki pengharapan yang pasti tentang rencana itu, maka hal ini pun bisa membuat hidupnya tidak berpengharapan. Akan tetapi, pada saat-saat yang berat ini, Allah tidak pernah meninggalkannya seorang diri. Allah senantiasa memberikan penghiburan dan penguatan kepadanya. Yusuf mengimani dan memegang janji Allah. Kesulitan dan liku-liku kehidupan yang berat tidak membuatnya putus asa. Dia bisa bebas dari kepahitan, kebencian, dan kemarahan, semuanya membuktikan bahwa ia dipelihara oleh mukjizat yang luar biasa dari anugerah Allah.

e. Yusuf dipromosikan ("putted").

Di dalam penjara, Yusuf tetap dipakai Tuhan. Karunia Allah tetap bekerja di dalam dirinya. Ketika dua rekannya sesama narapidana mendapat mimpi, Yusuf langsung bisa menafsirkan mimpi mereka. Dua tahun berikutnya, Raja Firaun mendapatkan mimpi yang menggelisahkan hatinya. Si juru minuman yang sempat lupa (atau mungkin melupakan) Yusuf, tiba-tiba ingat bahwa Yusuf sanggup menafsirkan mimpi. Maka, dipanggilnyalah Yusuf dan dibawanya menghadap Firaun. Dengan pimpinan Tuhan, Yusuf segera menafsirkan mimpi Firaun. Firaun begitu terkesan dengan Yusuf, sehingga dia menjadikannya sebagai orang kedua atas seluruh wilayah Mesir.

f. Yusuf mati.

Yusuf tidak menjadi "orang yang istimewa" karena pilihannya sendiri, tetapi karena pengaturan Ilahi. Di dalam kitab Ibrani, disebutkan bahwa Yusuf memiliki iman yang teguh di dalam Allah (Ibrani 11:22). Tembok-tembok denominasi tidak dapat menutup "pelayanan" Yusuf. Dia tidak gila harta, matanya tertuju pada upah yang lebih besar daripada kekayaan yang diperolehnya di Mesir. Dia memilih mengutamakan Allah dan hidup sesuai rencana-Nya. Karena iman, akhirnya dia bisa melihat penggenapan janji-janji Allah yang pernah diucapkan Tuhan kepada nenek moyangnya: Abraham, Ishak, dan Yakub. Yusuf meninggal pada usia 110 tahun di Mesir. Setelah diberi rempah-rempah, mayatnya ditaruh dalam peti dan dibawa ke tanah leluhurnya.

1 komentar: