Senin, 14 Oktober 2013

Perkembangan Iman Anak (I)

Perkembangan selalu berbicara tentang perubahan dan peningkatan. Sebagai pelayan anak, kita memiliki kewajiban untuk menolong dan memantau perkembangan iman anak-anak yang kita layani. Ini merupakan tugas yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Sampai saat ini, sejauh mana kita telah memperhatikan pentingnya hal ini bagi kehidupan anak-anak yang kita layani?

STATUS ROHANI SEORANG ANAK

Kita yang melayani anak di gereja atau yayasan gerejawi perlu memiliki keyakinan tentang status rohani seorang anak di hadapan Tuhan, berdasarkan firman Tuhan. Kita juga harus tahu perkembangan kerohaniannya. Kedua pokok ini berkaitan dengan masalah pertobatan dan kelahiran baru dalam hidup seorang anak.

Mungkinkah seorang anak bertobat? Perlukah hal itu? Jika hal itu memang memungkinkan dan diperlukan, kapan hal itu bisa terjadi?

Keyakinan tentang hal ini sangat mewarnai cara dan arah pelayanan kita. Namun, keyakinan ini tidak mudah diperoleh karena adanya perbedaan pandangan teologis, pandangan tentang penginjilan, dan pola pendidikan yang berhubungan dengan anak.

Ada suara dari abad yang lalu yang berkata, "Delapan belas abad yang lalu, ketika iman Kristen diajarkan, dihasilkan sangat sedikit keterangan mengenai pokok 'Anak di dalam gereja'. Pokok ini sebagian besar masih perlu disoroti oleh teologi."

Selama berabad-abad, ditemukan gereja yang berpandangan bahwa anak menikmati status "tidak dipengaruhi oleh dosa turunan" sebelum mereka tiba pada saat mereka harus bertanggung jawab kepada Allah. Tetapi, ada juga pandangan lainnya, seperti yang diyakini oleh George Whitefield, seorang penginjil di Amerika pada abad ke-17. Ia berpendapat bahwa anak dapat dibandingkan dengan "ular berbisa" dan "buaya" yang juga manis selama kecil.

Adanya anggapan yang berbeda-beda, antara lain seperti tersebut di atas, menantang kita yang terjun langsung dalam pelayanan rohani anak untuk secara serius menyelidiki dan memikirkan status dan kebutuhan rohani seorang anak.

Anak dalam Alkitab
Perjanjian Lama: Aman dalam "Covenant relationship".

Kita tidak menemukan suatu keragu-raguan atau persoalan mengenai status anak dalam keluarga atau dalam persekutuan agama orang Israel. Kepada Abraham diberikan tanda perjanjian, yaitu sunat. Setiap anak laki-laki yang baru lahir menerima tanda itu pada umur delapan hari. Tanda ini membawa dia masuk ke dalam persekutuan orang percaya dan ke dalam keluarga yang takut akan Allah. Status ini diperoleh asalkan anak itu lahir dari keturunan Yahudi. Dalam keluarga, anak itu dibesarkan, dididik, dan diajar, sampai ia berumur dua belas tahun. Pada umur itu, seorang anak laki-laki disebut "anak Hukum Taurat" dan sesudah itu orang tuanya dilepaskan dari tanggung jawab rohani terhadap anaknya.

Perjanjian Baru: Aman dalam kasih dan janji Tuhan Yesus.

Dalam menyelidiki empat Injil, kita berfokus pada ucapan Tuhan Yesus mengenai anak-anak dan sikap-Nya terhadap mereka. Kita dapat melihat dalam bagian-bagian Alkitab berikut ini: Markus 10:14, Markus 10:15, Matius 18:6, dan Matius 18:14. Hal yang menarik perhatian ialah, bahwa Tuhan Yesus menunjuk anak sebagai teladan bagi orang dewasa dalam hal menerima Kerajaan Allah. Tuhan Yesus tidak menantikan seorang anak menjadi matang terlebih dahulu dan menjadi dewasa secara umur sebelum ia dapat masuk ke Kerajaan Surga.

Perjanjian Baru: "Dahulu" dan "Sekarang" serta konsepsi pertumbuhan.

Surat-surat dalam Perjanjian Baru ditulis kepada orang dewasa. Hampir semua dari mereka merupakan orang Kristen generasi pertama. Dalam surat-surat itu, kita dapat memperhatikan pembagian yang jelas dan tegas antara hidup lama, yang sudah lenyap, dengan penyembahan-penyembahan berhala, kemerosotan moral, dan lain-lainnya, dan hidup baru yang dimulai pada suatu saat tertentu, yang harus berkembang dalam persekutuan orang-orang percaya.

Anak-anak hampir tidak disebut dalam surat-surat. Dalam Efesus 6:1-3 dan Kolose 3:20, anak dinasihati supaya taat dan menghormati orang tua sesuai dengan sepuluh hukum. Paulus juga memperingatkan orang tua, dalam hal ini ayah, agar mereka jangan membangkitkan amarah dalam hati anak, melainkan mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).

Sebagai orang Kristen generasi pertama, tidak ada di antara mereka yang dibesarkan dalam suasana keluarga Kristen. Karena itu, nasihat Paulus ini penting sekali. Dalam gereja mula-mula, orang dewasa bertobat -- mungkin juga ada anak yang bertobat bersama mereka -- kemudian orang tua membesarkan anak mereka dalam konteks keluarga Kristen.

Dalam 1 Korintus 7:13-14, ditambahkan hal lainnya yang juga penting. Anak dari pernikahan di mana hanya salah satu dari orang tuanya yang bertobat, disebut "kudus", artinya milik Tuhan. Mereka akan dibesarkan dalam suasana yang dikuduskan oleh kehadiran Tuhan dalam hidup salah satu orang tuanya yang percaya.

PANDANGAN INJILI: STATUS ROHANI DAN PERTOBATAN ANAK

Kematian Yesus Kristus di kayu salib membawa penebusan bagi seluruh umat manusia dan dapat diterima oleh semua orang, baik dewasa maupun anak. Semua manusia mewarisi kecenderungan pada dosa, akibat kejatuhan Adam dan Hawa, nenek moyang umat manusia. Status ini menyebabkan setiap orang, termasuk anak, telah berbuat dosa dan membutuhkan pembenaran di hadapan Allah. Pemberian anugerah ini diterima melalui percaya (Roma 3:23-26, 5:18).

Status Rohani Anak

Semua anak dalam semua ras dan bangsa, seperti anak pada zaman Tuhan Yesus, sangat dikasihi oleh Tuhan Yesus. Ia mau supaya mereka datang kepada-Nya dan sedini mungkin menerima berkat penuh, yaitu hidup dalam Kerajaan Allah (Markus 10:13-16).

Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga Kristen, di mana ayah atau ibu atau kedua orang tuanya percaya, disebutkan "kudus".

Seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang jauh dari Tuhan merupakan domba yang hilang. Anak itu harus dicari dan dibawa kembali ke "kandang" (Sekolah Minggu, Jemaat) oleh gembala-gembala yang setia, yang diutus oleh Allah untuk mencari yang terhilang.

Pertobatan dan Kelahiran Baru

Kita diperhadapkan pada rahasia besar sewaktu kita memikirkan pertobatan dan kelahiran baru. Kita berdiri pada tanah yang suci. Ada suatu saat dalam hidup setiap anak yang diajar dalam iman Kristen, di mana ia disadarkan oleh Roh Kudus akan kasih yang besar, yang dinyatakan dalam kematian Yesus Kristus di Golgota. Pada saat itu, ia dapat melangkah dengan iman, menerima anugerah keselamatan bila ada yang membimbingnya.

Kalau tidak ada, ada kemungkinan bahwa anak itu melangkah seorang diri dan baru kemudian menerima penjelasan tentang apa yang terjadi. Kesempatan seperti itu datang beberapa kali dalam hidup setiap manusia, termasuk anak. Ada kesaksian bahwa pertobatan seperti itu terjadi pada masa terbitnya kesadaran hati nurani (umur 3 -- 5 tahun). Akan tetapi, lebih banyak anak mengalami pertobatan pada masa perkembangan, di mana mereka mulai sangat peka terhadap Hukum Taurat dan dosa, yaitu ketika berumur 8 -- 12 tahun.

Jadi, yang dimaksud dengan pertobatan adalah berpalingnya seorang anak kepada Tuhan dengan menyesali dosa-dosanya. Kemudian, mengakuinya dengan jujur dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat secara pribadi. Pada saat itu, kelahiran baru terjadi. Melaluinya, anak mengalami hidup baru, tujuan baru, juga kuasa baru untuk bertumbuh sebagai orang Kristen.

Hal yang perlu diingat, seorang anak tetaplah seorang anak yang tumbuh dalam perkembangan yang wajar, sama seperti semua anak lainnya.

PENGINJILAN DAN PENDIDIKAN KRISTEN DALAM HIDUP ANAK


Keluarga adalah tempat yang paling efektif yang ditetapkan Allah untuk mendidik anak dalam iman. Dalam keluarga Kristen, seorang anak dapat belajar beriman sebagai suatu kebudayaan. Ini yang dimaksudkan dalam Kitab Ulangan 6:4-7 dan Efesus 5:22-6:4. Meski demikian, gereja sebagai tubuh Kristus juga bertanggung jawab untuk mengadakan program pengajaran (Sekolah Minggu) dan Penginjilan (Pekan Anak, Kebangunan Rohani, Kamp Anak). Boleh jadi, apa yang sudah ditanam dengan sabar dan tekun selama bertahun-tahun, tiba-tiba mulai menampakkan hasil. Anak bertobat dan masuk ke dalam hidup baru yang tahan uji di kemudian hari.

Pada dasarnya, pelayanan gereja memperkokoh apa yang diajarkan dalam rumah tangga Kristen. Pengajaran ini disampaikan dalam konteks "keluarga baru" seperti yang dibicarakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 12:45-50. Belajar dalam konteks itu juga penting sekali untuk anak dari keluarga non-Kristen yang belum mendapat bimbingan rohani di rumah.

Selain itu, gereja juga dapat merencanakan peristiwa khusus seperti Kamp Keluarga Kristen. Kamp itu dapat dibandingkan dengan perayaan orang Israel dalam zaman Perjanjian Lama, umpamanya, Pesta Pondok Daun. Pada perayaan seperti itu, firman Tuhan diajarkan dalam konteks hidup bersama-sama, besar dan kecil, sebagai keluarga orang yang percaya. Keadaan ini menolong keluarga-keluarga mempraktikkan hidup beriman yang nanti dapat diteruskan dalam rumah tangga masing-masing.

Kita dapat mengajar dan membimbing seorang anak langkah demi langkah sesuai dengan tingkat perkembangan yang ditetapkan oleh Pencipta mereka. Tetapi, kita juga harus menyadari bahwa setiap saat, seorang anak dapat dibawa kepada Penciptanya yang menantikan respons mereka. Pada saat itu, dapat terjadi suatu pertobatan yang mengakibatkan kelahiran baru. Peristiwa semacam ini sewaktu-waktu perlu direncanakan melalui pengadaan penginjilan.

Diambil dan disunting dari:
Judul buku: Pedoman Pelayanan Anak
Penulis: Ruth Laufer & Anni Dyck
Penerbit: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang
Halaman: 59 -- 61 dan 63 -- 65

Tidak ada komentar:

Posting Komentar