Minggu, 25 November 2012

Bila Tuhan Tidak Mengaruniai Anak

Tidak dapat dimungkiri bahwa kehadiran seorang anak sangat dinanti oleh semua pasangan. Bagi kebanyakan orang, rumah tangga seolah belum lengkap tanpa kehadiran seorang anak. Bukan perkara mudah bagi pasangan tanpa anak untuk hidup dalam anggapan-anggapan tersebut. Lalu, apakah yang harus dilakukan oleh pasangan yang tidak dikaruniai anak? Mungkinkah mereka bisa menjalani kehidupan pernikahan dengan bahagia? Belajar dari beberapa tokoh Alkitab akan sangat membantu untuk menghadapi situasi ini. Meski tanpa kehadiran seorang anak, percayalah bahwa Allah tetap memberikan sukacita dalam kehidupan pernikahan Anda. Semoga artikel dan tip yang kami sajikan dalam edisi ini, bermanfaat bagi Anda atau konseli yang Anda layani.

SUAMI ISTRI YANG TIDAK MEMUNYAI ANAK

Kisah Rahel dan Lea melukiskan betapa pentingnya bagi seorang wanita untuk melahirkan anak laki-laki untuk suaminya (Kejadian 30:1-24).

Banyak pasangan suami istri Israel yang tidak dapat melahirkan anak. Saat ini, kita sudah dapat mengetahui bahwa pasangan yang tidak dikaruniai anak bisa diakibatkan karena kemandulan suami atau istri. Akan tetapi, dunia pada zaman dahulu hanya menyalahkan istri berkaitan dengan masalah ini (kecuali Ulangan 7:14).

Seruan Rahel, "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati." (Kejadian 30:1), menggambarkan perasaan setiap istri. Dan sudah pasti banyak suami yang merasa risau akan menyetujui jawaban Yakub, "Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?" (Kejadian 30:2)

Kemandulan bukan hanya masalah fisik atau sosial. Berbagai arti yang dalam secara rohani juga dikaitkan dengan masalah ini. Musa menjanjikan kepada umat Israel bahwa apabila mereka menaati Tuhan, berkat akan menyusul, "Engkau akan diberkati lebih daripada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu." (Ulangan 7:14) Oleh sebab itu, kemandulan dianggap sebagai akibat dari ketidaktaatan kepada Allah. Gagasan ini terlihat sepanjang sejarah Israel. Misalnya, Abraham secara terus terang menyatakan kepada Abimelekh bahwa Sara adalah saudara perempuannya. Akan tetapi, Allah menyatakan kepada Abimelekh dalam sebuah mimpi bahwa Sara sudah menikah. Ketika raja mengembalikan Sara kepada suaminya, Abraham memohon kepada Allah untuk mengaruniai anak-anak kepadanya sebagai ganjaran. "Sebab tadinya Tuhan telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, istri Abraham itu." (Kejadian 20:18) Bagian Alkitab ini menggambarkan kemandulan yang hanya bertahan selama waktu yang singkat. Akan tetapi, keadaan ini bisa bersifat permanen (bdg. Imamat 20:20-21). Akan tetapi, entah itu bersifat sementara atau permanen, kemandulan dianggap sebagai kutukan Allah.

Sulit bagi kita untuk membayangkan betapa menghancurkannya semua kejadian ini bagi wanita yang tidak dapat melahirkan anak. Secara rohani ia bingung, secara sosial ia malu, dan secara psikologis ia tertekan. Ia telah menikah dengan seorang pria yang ingin memunyai anak untuk menjamin kesinambungan garis keluarganya. Sang suami mungkin tetap mencintainya, tetapi si istri tetap tidak merasa terhibur olehnya (bdg. 1 Samuel 1:6-8).

Suami istri yang mandul menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa kegagalan mereka pada masa lalu, untuk melihat apakah ada dosa yang tidak diakui. Melalui air matanya, si istri bertobat dari semua dosa yang diketahuinya dan si suami mempersembahkan korban yang patut untuk menutup dosa yang diperbuatnya "tidak dengan sengaja" (bdg. Imamat 4:2). Kemandulan menjadi pokok doa utama dari suami istri ini. Perhatikan bagaimana Ishak memohon kepada Tuhan untuk mengizinkan istrinya mengandung (Kejadian 25:21). Hana menangis tersedu-sedu di hadapan Tuhan dan berjanji jika Tuhan mengaruniai seorang anak laki-laki kepadanya, ia akan menyerahkan anak itu untuk melayani Tuhan (1 Samuel 1:11).

Ketika dosa dikesampingkan sebagai penyebab masalah itu, sang istri dengan leluasa dapat menanyakan tentang bermacam-macam obat. Para kerabat, teman, dan tetangganya mungkin menganjurkan supaya ia mencoba berbagai obat pekasih atau minuman pembangkit cinta berahi yang ternyata telah membantu mereka. Salah satu makanan semacam itu yang disebutkan dalam Alkitab adalah buah dudaim (Kejadian 30:14-16). Orang percaya bahwa tanaman dudaim dapat menghasilkan kesuburan; sering kali buahnya dipakai sebagai pemikat kasih. Rahel berharap buah itu dapat membantunya mengandung. Pada zaman para nabi, kaum wanita berusaha untuk mengatasi kemandulan dengan mencoba mengubah makanan mereka. Buah apel dan ikan dianggap dapat menjadikan orang kuat secara seksual, sehingga mendapat anak.

Berbagai penggalian di Israel belakangan ini, menemukan banyak arca kesuburan dari tanah liat. Arca-arca tersebut dipercaya membantu seorang wanita menjadi hamil oleh "daya sihir yang responsif". Tiap patung dibentuk seperti wanita hamil. Pada waktu wanita yang mandul itu memegang-megangnya dan menyimpannya di dekatnya, ia berharap bisa hamil. Wanita juga memakai jimat untuk menjamin kesuburan. Nabi Yeremia memerhatikan suatu kebiasaan kafir yang umum: Kaum wanita Yehuda meremas adonan, memberi korban curahan, dan membakar dupa kepada "ratu surga" untuk menjamin kesuburan (Yeremia 44:17-19; bdg. Yeremia 7:18). "Ratu" yang disebut dalam ayat-ayat ini mungkin Asytoret (Astarte), dewi asmara, kehamilan, dan kesuburan. Sudah tentu semua perbuatan takhayul ini adalah kekejian bagi Allah.

Bila semua pengobatan itu tidak berhasil, wanita itu dianggap mandul secara permanen. Dalam kondisi ini, sang suami mungkin akan mengambil tindakan drastis. Ia mungkin akan menikahi wanita lain atau mengambil seorang budak perempuan untuk melahirkan anak-anak dengan namanya. Itulah sebabnya, Sara memberikan hambanya, Hagar, kepada Abraham (Kejadian 16:2). Juga, Rahel meminta suaminya, Yakub, untuk mendapatkan anak dari budak perempuannya, Bilha (Kejadian 30:3).

Adopsi merupakan cara lain untuk mengatasi kemandulan seorang istri. Suami istri yang tidak memunyai anak dapat mengangkat seorang bayi/seorang dewasa sebagai anak. Eliezer dari Damsyik adalah seorang laki-laki dewasa, tetapi Abraham memberi tahu Allah bahwa ia akan menjadi ahli warisnya (Kejadian 15:2). Lempeng-lempeng tanah liat abad ke-15 sM yang ditemukan di Nuzi, menunjukkan bahwa Abraham sedang mengikuti perbuatan yang umum dalam kebudayaan Semit, meskipun hal ini sedikit sekali disebut dalam Alkitab. Adopsi menyelesaikan banyak masalah: Anak laki-laki yang diadopsi akan mengurus suami istri itu pada usia lanjut, memberikan pemakaman yang semestinya kepada mereka, dan mewarisi tanah milik keluarga itu. Akan tetapi, apabila suami istri itu mendapatkan seorang anak kandung setelah mereka mengadopsi anak, anak kandung itu akan menjadi ahli waris yang sah.

Perhatikan bahwa setelah anak Bilha dilahirkan, ia diletakkan dalam pangkuan Rahel. Perbuatan ini adalah bagian inti dari upacara adopsi. Bayi itu diadopsi oleh Rahel sebagai bayinya (bdg. Kejadian 30:3). Acuan-acuan lain tentang adopsi: putri Firaun mengadopsi Musa (Keluaran 2: 10 - Mesir) dan Mordekhai mengadopsi Ester (Ester 2:7, 15 - Persia).

Apabila seorang wanita menjadi hamil setelah menunggu selama bertahun-tahun, ia menjadi wanita yang paling bahagia di desanya. Dan, akan terjadi sukacita besar ketika bayinya lahir. Kita melihat hal ini dalam kisah Elisabet, ibu Yohanes Pembaptis. Lukas menulis, "Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia." (Lukas 1:58) Ketika akhirnya Rahel mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, ia berseru, "Allah telah menghapuskan aibku." (Kejadian 30:23) Karena berharap bahwa anak ini tidak akan menjadi anak tunggal, ia menamai dia Yusuf yang berarti "Ia menambah," sambil berkata, "Mudah-mudahan Tuhan menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku." (Kejadian 30:24)

Sumber: Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac

Tidak ada komentar:

Posting Komentar